Reminder Guest
Posted: 09/12/2011 Filed under: Dissa | Tags: Allah, dhuha, Dissa, gaji, guest, hutang, ilmu, kekurangan, pengingat, reminder, rizky, sedekah, syukur, tamu Leave a comment »08.10 Malam,
Dissa menjatuhkan tubuhnya yang lunglai di atas kursi sederhana di ruang tamu rumahnya. Badannya diganjal bantal yang cukup empuk, kepalanya menengadah memandang langit-langit rumah yang berhias lampu neon yang agak redup dan sebuah kipas angin gantung berwarna hitam yang tak bergerak.
Kelelahan itu dirasakan Dissa setiap hari dari senin sampai jum’at sepulang menempuh jarak 84 Km dari tempat kerja ke rumahnya bolak-balik menggunakan motor tua nya semata wayang. Angin malam sedikit berhembus dari arah pintu depan yang sengaja sedikit terbuka.
Ini bukan kali pertama Dissa memikirkan untuk bagaimana menjalani hari esok dengan hanya memegang uang 10 ribu saja di kantong, sedang anak istrinya harus makan, ongkos untuk Dissa kerja pun tak kurang dari 20 ribu….ini di alaminya hampir setiap hari, tapi pengalaman membuktikan bahwa dia bisa melewati hari-hari itu bersama keluarganya tanpa pernah merasa kelaparan…. “hmmm kekuasaan Allah” gumam Dissa dalam hati, tapi rasa gundah itu tetap menggantung di dadanya.
Setiap tanggal 5 Dissa sudah tidak lagi memegang uang karena uang gajinya sebagian besar telah habis untuk menutupi kewajiban pembayaran hutang-hutangnya.
Tiba-tiba handphone Dissa berbunyi mengaburkan sejenak lamunannya. Dissa bangkit dan mengambil HP itu yang tergeletak di meja dekat kakinya yang tadi diluruskan ke atas meja. Ada SMS….. dari seorang temannya, Haris, yang katanya akan datang ke rumah Dissa malam itu.
“Heran…” pikir Dissa, Haris itu hanya teman sepintas yang dua ahun lalu pernah kenal dan bertemu dua kali saja tanpa pernah berhubungan lagi walau cuma lewat telfon, wajahnya pun lupa-lupa ingat. Dissa segera menelfon balik untuk memastikan SMS itu, ternyata benar bahwa Haris mau datang sekitar jam 11 malam.
……………………………………….
Bunyi suara motor mendekati rumah membuat Dissa tersentak, ia ketiduran tadi. Jam dinding menunjukkan pukul 11.05 malam…. “itu pasti Haris datang”.
Dissa melangkah ke pintu depan dan membukanya. Seorang pria seumur Dissa dengan badan yang tidak terlalu besar masih duduk di atas motor matic nya dan tersenyum kecil ke arah Dissa,…. itu Haris.
“udah tidur bos?”
“belum”
“sorry nih ganggu malem-malem”
“ah..gak apa-apa” jawab Dissa sambil melangkah mendekati pagar rumah.
“masukkin aja motornya” seru Dissa sambil menarik pagar besi rumahnya. Haris segera mendorong motornya ke halaman rumah Dissa yang mirip garasi tapi tak pernah ada mobilnya.
……………………………………
Dissa menyodorkan sebotol air putih, gelas, dan secangkir kopi hitam di atas meja dekat Haris duduk.
“gimana kabarnya Dis?”
“baik…baik…”
basa-basi itu membuka perbincangan pertama mereka setelah 2 tahun tak bertemu.
Tapi ternyata obrolan mereka semakin lama semakin seru seakan Dissa dan Haris teman main sehari-hari saja. Hingga tiba-tiba Haris bercerita tentang kesusahan yang dilaluinya ketika dia mengalami kebangkrutan total usahanya. Dari mulai kebiasaan berfoya-foya hingga dia harus tidur di mushola karena tak ingin tinggal di rumah seharian. Haris malu bila sampai mertuanya tahu kalau dia sudah tak punya pekerjaan lagi. Haris pun terlilit hutang yang lumayan banyak, tapi kini Haris sedikit demi sedikit sudah bisa melewati masa-masa itu dan mulai merintis kembali usahanya.
Anehnya…. Haris seolah-olah tahu bahwa Dissa sedang diliputi masalah keuangan yang cukup pelik, hingga satu pertanyaan dari Haris mengagetkan Dissa.
“kalo kamu setiap bulan berapa kewajiban hutang yang harus dibayar Dis?”
Spontan Dissa menjawabnya dengan jujur dan panjang lebar sekaligus gantian bercerita tentang keadaan ekonomi keluarganya sekarang.
“gaji kamu sekarang berapa memang?.. maaf ya saya tanya-tanya” Haris bertanya lagi.
“sekitar 2,5 juta” jawab Dissa
“berarti kalo dibayarin hutang tinggal sisa 1 juta ya Dis?”
“yo’i…sekitar segituan”
“jadi, berapa kurangnya untuk kebutuhan hidup sebulan?”
“sekitar 1,5 juta lah..”
“kalo gitu, besok kalo gajian langsung disedekahkan 150 ribu atau 200 ribu, insyaAllah… Allah akan menggantinya 10 kali lipat. Jadi kamu bisa dapat tambahan 1,5 juta untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Jangan lupa setiap dapat rizky berapapun jumlahnya harus langsung disisihkan 2,5% untuk sedekah, karena itu hak nya orang lain. Usahakan untuk shalat Dhuha setiap pagi.”
Dissa tersentak mendengar kata-kata itu, lalu termenung…. “Subhanallah… harusnya kata-kata itu keluar dari lisan seorang ustadz, tapi ini hanya seorang Haris. Allah memang memberikan hidayah-Nya dari arah mana saja.
Sebenarnya Dissa sering mendengar kata-kata itu, tapi tidak pernah mengendap dalam hati. Yang ini seolah-olah pengingat yang cukup menusuk ke dalam relung hati Dissa.
Ujung dari obrolan tersebut ternyata Haris datang untuk meminta bantuan Dissa dibuatkan sesuatu yang memang Dissa mampu mengerjakannya, Haris pun tahu itu. Ordernya lumayan 400 ribu, Haris membayar DP 100 ribu.
Alhamdulillaah… besok Dissa bisa berangkat kerja dan keluarganya bisa makan. Rizky Allah berupa uang dan ilmu datang dari arah yang tak terduga-duga.
Haris berpamitan, dan Dissa langsung ke pembaringan menatapi wajah anak dan istrinya yang sudah tertidur pulas satu per satu sambil tersenyum dan mengucap syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
Dissa memejamkan mata, memberikan hak kepada tubuhnya untuk beristirahat setelah membaca beberapa do’a kepada Allah yang Maha Mematikan dan Menghidupkan.
Dalam hati Dissa berjanji untuk menyelesaikan hutang-hutangnya dan tidak menambah-nambah lagi hutang baru. Dissa berjanji untuk tidak pernah lagi menggantungkan harapannya kepada orang lain selain kepada Allah SWT pemilik segala jiwa manusia.
……………………………………….
Selesai,
Tunggu cerita Dissa selanjutnya.
Wassalaam…”



Komentar